Mukadimah
Aku hanya manusia biasa yang bekerja 8 jam, iya seperti manusia pada umumnya, berangkat jam setengah tujuh, pulang jam empat sore, aku hanya manusia yang suka membaca, suka menikmati keindahan alam, suka menunggangi skuter tua, suka fotografi dan penggila kopi.
Perjalanan hidupku seolah dimulai saat ibundaku meninggal dua bulan yang lalu, Bundaku meninggal karena sakit, sakit yang dideritanya hampir dua tahun lamanya, dan tiga bulan sebelum beliau meninggal telah sembuh dari sakitnya itu, mulai berjalan layaknya orang normal, tapi mulai berbicara aneh, seakan beliau tau akan meninggalkan dunia ini, " Mas, kalau bunda meninggal nanti bawa saja bunga melati ke makam bunda, jangan bunga yang lain", aku menganggapnya hanya sekedar omongan candaan yang biasa, kami memang sering bercanda, apapun masalahku dan cerita yang membuatku bahagia semua aku ceritakan pada bunda, apapun itu, sedetail mungkin. Sehingga tidak ada jarak lagi diantara kami.
Iya sesepesial itu bunda bagiku, jangan tanyakan lagi perasaanku ketika "ditinggal" beliau, yang paling aku ingat dan sering sekali bunda wejangkan untukku adalah "selalu sederhana mas, tidak usah terlalu berfikir, nikmati saja, jangan lupa beribadah dan berdo'a, agar selalu terhubung dengan Tuhan".
Aku tipe orang yang selalu bertanya, kenapa bunda meminta melati untuk menghias makamnya?
Bundaku seorang yang peka batinnya, tidak mungkin hanya menyukai estetika bunga melati, tidak mungkin hanya suka aromanya.
Ayahku seorang guru, beliau mengajar bahasa jawa dan sejarah Islam, aku menanyakan arti filsafat jawa tentang melati, "melati itu perlambang kesederhanaan dan kesucian mas".
Bundaku seorang yang peka batinnya, tidak mungkin hanya menyukai estetika bunga melati, tidak mungkin hanya suka aromanya.
Ayahku seorang guru, beliau mengajar bahasa jawa dan sejarah Islam, aku menanyakan arti filsafat jawa tentang melati, "melati itu perlambang kesederhanaan dan kesucian mas".
Iya wejangan bunda yang selama beliau hidup telah di sederhanakan dengan bunga melati, kesederhanaan dan suci, aku selalu mengingatnya sampai detik ini, sampai aku memutuskan untuk menulis ceritaku ini.

Komentar
Posting Komentar